Minggu, 05 Mei 2013

Kearifan Budaya Lokal daerah Kepulauan Riau


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah swt, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan segala aktivitasnya.Solawat serta salam semoga tetap tercurah untuk Nabi Muhammad saw, untuk keluarganya, sahabat-sahabatnya, juga umatnya sampai akhir zaman. Amin.
Adapun maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam kegiatan belajar mengajar di mata kuliah softskill di Universitas Gunadarma  Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi. Terselesaikannya makalah  ini, tentunya, tidak lepas dari bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itudalam kesempatan ini dan dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada nama-nama sebagai berikut.
1.Allah S.W.T  yang telah melindungi dan menemani saya setiap saat.
2.Orangtua yang selalu mendoakan dan mensupport saya dari jauh .
3.Ibu Komsi Koranti, selaku dosen softskill yang telah memberi masukan saran tentang makalah ...saya.
4.Teman-teman dan semua pihak yang dengan penuh perhatian dan dorongan sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik
5.Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam ...menyelesaikan makalah ini.
Demikianlah makalah ini , harapan kami sangat sederhana, yaitu semoga para pembaca makalah ini akan mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan yang baru dari makalah ini.

                                                                                                                              Penulis,
                                                                        (Putri Zulva Oktaviana)


DAFTAR ISI

-        KATA PENGANTAR
-        DAFTAR ISI
-        BAB I PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
1.2       Rumusan Masalah
1.3       Tujuan Penulisan
1.4       Metodologi Penulisan

-         BAB II LANDASAN TEORITIS

2.1 Pengenalan Provinsi Kepulauan Riau
2.2 Pulau Penyengat Aset Turun Temurun
2.3 Marwah Negeri Kepulauan Riau
2.4 Adat istiadat khas Perkawinan Kepulaun Riau

-         BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

- DAFTAR PUSTAKA



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1     LATAR BELAKANG
Riau daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai adat istiadat turun temurun yang sangat khas dizaman dahulu hingga zaman modern sekarang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah provinsi ini. Suku Melayu dalam pengertian ini, berbeda dengan konsep Bangsa Melayu yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, Mindanao, Myanmar Selatan, serta pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah Suku Melayu sekitar 3,4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami propinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung,dan Kalimantan Barat.

1.2 PERUMUSAN MASALAH
Dari Latar Belakang  yang telah saya uraikan maka masalah yang akan di bahas dapat dirumuskan kedalam pertanyaan sebagai berikut :
•           Kearifan Kebudayaan Kepulauan Riau
•           Berbagai macam Adat Istiadat Kepulauan Riau
•           Spesifik tata cara perkawinan Kebudayaan Kepulauan Riau

1.3  TUJUAN PENULISAN
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
•           Agar mengetahui berbagai macam Kebudayaan Kepulauan Riau
•           Agar mengetahui jenis-jenis adat istiadat khas kebudayaan Kepulauan Riau
•           Untuk Memenuhi tugas Mata Kulias Ilmu Sosial Dasar (SoftSkill)


1.4 METODOLOGI PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini, yaitu metode deskripsi analisi.Metode tersebut merupakan metode yang memberikan gambaran objektif serta membahasnya secara lengkap yang dilakukan dengan mengumpulkan data dari website.
  
BAB 2
LANDASAN TEORITIS

2.1 PENGENALAN BUDAYA KEPULAUAN RIAU
Tidak dapat disangkal bahwa budaya dan falsafah Melayu telah menjadi perekat yang sangat kuat bagi kerukunan dan keharmonisan berbagai etnis yang ada di Kepulauan Riau. Sejak lama wilayah Kepulauan Riau telah menjadi kampung bersama bagi hampir seluruh etnis yang ada di nusantara ini. Semua kaum yang ada di Kepulauan Riau ini dapat menerima keberagaman etnis, budaya, agama dan bahasa yang ada dengan sikap toleran yang sangat tinggi.
Memang sedikit ironis memandang budaya melayu. Disatu sisi kita melihat budaya Melayu yang kita miliki merupakan tradisi yang cukup tinggi. Sejajar dengan tradisi daerah lainnya di Indonesia seperti Jogjakarta, Solo, Deli dan lain sebagainya. Memanglah adanya demikian. Budaya yang hari ini kita yakini merupakan hasil karya nenek moyang kita orang Melayu masa Lalu. Kita menganggap apa yang telah diwariskan kepada kita merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan.

2.2 PULAU PENYENGAT ASET KEBUDAYAAN KEPULAUAN RIAU
Pulau Penyengat merupakan anugerah terbesar yang dimiliki Kepulauan Riau dan Riau terutama Tanjungpinang. Penyengat adalah sebuah prasasti akan kebesaran Melayu masa lalu. Kerajaan Melayu Riau telah memberi warna pada perjalanan bangsa ini. Akan tetapi setelah diolah secara sepihak oleh Belanda pada tahun 1913, kerajaan tersebut seolah-olah hilang ditelan zaman.
Kata “seolah-olah” dipakai untuk tidak secara langsung mengatakan bahwa kerajaan itu masih ada. Meskipun secara fisik tidak lagi eksis, akan tetapi itetap bertahta di hati orang Melayu. Perwujudan itu masih dirasakan dengan melihat kecintaan masyarakat Melayu pada tradisinya.
Namun kita melupakan satu kearifan yang melingkupi seuruh kearifan yang kita miiki yakni Istana sebagai pemangku adat dan budaya.
Tidak dipungkiri bahwa segala bentuk budaya Melayu yang kita pegang teguh saat ini merupakan warisan Kerajaan Melayu masa lalu. Berbagai adat-istiadat yang merecup ke segenap sendi kehidupan orang Melayu saat ini adalah produk nenek moyang yang begitu indahnya menterjemahkan segala aspek kehidupan. Sungguh sangat tidak baik  jika kita yang hidup di tanah warisan mereka melupakan lembaga-lembaga seperti Istana, kedatuan, penghulu dan batin.
Memang benar kerajaan Melayu Riau sekarang ini tidak ada lagi. Tetapi sebagai sebuah kearifan lokal, semuanya  perlu dikembalikan. Jika terlambat maka suatu hari nanti besar kemungkinan budaya Meayu akan bergerak tanpa ada yang mampu mengendalikannya, selanjutnya hilang ditelan zaman.
Saat ini saja sudah mulai tampak. Misalnya dalam mengatur adat perkawinan, berbusana, bentuk bangunan, tata krama, upacara adat. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita merindukan keberadaan istana dalam kehidupan budaya Melayu di Kepulauan Riau. Banyak pola laku yang kita tunjukkan bahwa kita menginginkan hal itu. Banyak diantara kita yang bangga mendapat anugrah gelar dari kerajaan Melayu.
Kepulauan Riau memiliki peninggalan budaya yang tiada ternilai, baik itu yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Pengalaman selama ini memberi pelajaran penting apabila telah menyentuh hak-hak masyarakat. Hak-hak anak cucu para petinggi negeri. Kejayaan Melayu masa lalu perlu dibangkitkan dalam pengembangan budaya Melayu ke depan. Ada banyak manfaat jika kita dapat mengembalikan peran istana Melayu di Kepulauan Riau, antara lain:
1. Memudahkan koordinasi dalam pengembangan budaya di Kepulauan Riau.
2. Kebudayaan Melayu akan memiliki marwah dengan adanya pemangku adat yang memiiki legitimasi
3. Memberi Nilai tambah dalam kepariwisataan, terutama di Pulau Penyengat.

2.3 MARWAH BUDAYA KEPULAUAN RIAU
Motto Daerah adalah BERPANCANG AMANAH BERSAUH MARWAH;
I. BERPANCANG AMANAH bermakna menunjukkan sifat teguh untuk mempertahankan adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah guna mencapai akhlak mulia
II. BERSAUH MARWAH bermakna menjaga adat dan budaya guna menata masa depan yang lebih baik menuju cita-cita luhur untuk mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat Kepulauan Riau
Saat inipun masyarakat berusaha membentuk berbagai lembaga yang diharap mampu memberi marwah Melayu, tidak ada lagi alasan untuk tidak mengembalikan marwah Melayu dengan mengangkat kembali peran Istana peninggalan kerajaan dalam melindungi budaya Melayu.

2.4 ADAT ISTIADAT PERKAWINAN KEPULAUAN RIAU
Pernikahan Adat Melayu Kepulauan riau dimana masing-masing memiliki tradisi pernikahan tersendiri. Saya akan mengulas budaya dan tata cara adat pernikahan menurut tradisi Melayu Sumatera Timur. Terdapat beberapa rangkaian acara yang dimulai dari tahap pertahap ,jadi tata cara ini tetap ada disetiap pernikahan adat melayu dikarenakan caranya yang khas dan saklar, walaupun sudah banyak tata cara pernikahan yang modern, tetapi masih ada yang melakukannya yang dianggap sudah menjadi kewajiban didalam turun temurun adat keluarga khususnya keluarga Kerajaan ataupun keluarga asli melayu yang sangat menjunjung adat istiadat melayu yang dijadikan kearifan budaya lokal.
Adapun tata caranya adalah :
1.Mencari jodoh
2.Merisik
3.Meminang
4. Mengantar belanja
5. Mengajak dan menjemput
6. Menggantung-gantung
7. Upacara Berandam
8. Malam Berinai
9. Berkhatam Qur’an
10. Akad nikah
11. Tepuk tepung tawar
12. Bersanding
13. Makan berhadap
14. Menyembah Mertua
15. Mandi-mandi
16. Berambih


Mencari jodoh
Sudahlah sebagaimana lazimnya orang Melayu Kepulauan Riau, bahwa untuk mendirikan rumah tangga dikehendaki daripadanya beberapa persyaratan, yaitu :
1. Sesama beragama Islam
2. Sudah cukup dewasa
3. Sehat badan dan juga jiwanya
4. Untuk seorang lelaki (bujang) telah mampu mencari nafkah
5. Kematangan pemikiran dan bertanggung jawab
6. Memandang perkawinan sebagai sesuatu yang suci, religius, sakral.

Merisik
Salah satu keluarga atau seseorang diutus oleh pihak calon pengantin pria untuk meneliti atau mencari informasi mengenai salah satu keluarga keluarga lain yang mempunyai anak gadis. Tugas yang diamatkan adalah untuk mengetahui apakah anak gadis tersebut dapat dilamar, atau belum mempunyai ikatan dengan orag lain. Selain itu, utusan akan melakukan pembicaraan tentang kemungkinan pihak pria untuk melamar. Utusan tersebut tentunya menanyakan berapa mas kawin/mahar dan persyaratan apa saja yang diminta oleh keluarga wanita.

Meminang
Meminang dalam istilah Melayu sama dengan melamar. Acara ini diselenggarakan pada hari yang telah disepakati bersama, setelah melalui penentuan hari baik menurut perhitungan adat serta orangtua. Pihak keluarga calon pengantin pria yang dipimpin oleh keluarga terdekat akan melaksanakan lamaran secara resmi kepada keluarga calon pengantin wanita. Biasanya acara meminang ini diungkapkan dengan berbalas pantun. Secara tradisi, pihak keluarga pria membawa sejumlah tepak sirih-paling sedikit 5 buah; terdiri dari tepak pembuka kata, tepak merisik, tepak meminang, tepak ikat janji, tepak bertukar tanda dan beberapa tepak pengiring.

Malam berinai
Tujuan upacara ini dimaksudkan untuk menolak bala dan melindungi pasangan pengantin dari marabahaya, termasuk bahaya yang kasat mata, menaikkan aura dan cahaya pengantin wanita dan memunculkan wibawa pengantin pria.
Berinai yang dimaksud adalah memasang/memoleskan daun inai (daun pacar) yang sudah digiling halus, terutama pada kuku jari tangan dan telapak tangan jari kaki dan telapaknya samapi ke tumit.

Upacara Berandam
Upacara ini lazim dilakukan setelah malam berinai yaitu keesokan harinya. Tujuannya untuk menghapuskan/membersihkan sang calon pengantin dari ‘kotoran’ dunia sehingga hatinya menjadi putih dan suci.
Berandam pada hakikatnya adalah melakukan pencukuran bulu roma pada wajah dan tengkuk calon pengantin wanita sekaligus juga membersihkan mukanya.

Akad Nikah

Biasanya upacara akad nikah ini dilakukan pada malam hari yang mengambil tempat di kediaman calon pengantin wanita.
Sebelum berangkat ke rumah mempelai wanita, pengantin pria terlebih dahulu ditepung tawari(diberi bedak dingin yang dibuat secara tradisional) sebagai lambing hati yang sejuk, oleh keluarga dekat dan kerabat yang dituai atau dihormati, kemudian meminta doa restu drai orangtua agar akad nikahnya dapat berjalan lancar.
Tepuk Tepung Tawar
Ritual adat ini merupakan ungkapan rasa syukur dan pemberian doa harapan kepada kedua mempelai, yang dilakukan oleh para sesepuh keluarga dan tokoh adat. Dengan cara menepukan daun-daunan (antara lain daun setawar, sedingin, ganda rusa, sirih, hati-hati, sijuang, dan setetusnya) yang diikat jadi satu dan telah dicelup ke air harum serta beras kunyit sangrai, lalu ditepukan kepada kedua mempelai. Kelengkapan pnabur ini biasanya menggunakan bahan seperti beras basuh, beras putih, beras kunyit, ataupun beras kuning serta bunga rampai. Kesemua bahan ini digunakan tentunya mengandung makna mulia. Sesuai tradisi, sesepuh seusai nmelakukan tepuk tepung tawar akan mendapatkan bingkisan berupa ‘bunga telur’ yakni berupa bunga yang dibuat dari kertas diikatkan pada sebatang lidi yang telah disertai telur diikat benang merah, sebagai ungkapan terimakasih dari pihak pengantin. Namun sesuai perkembangan zaman, ungkapan terimakasih atau souvenir tersebut kini diubah bentuk maupun jenisnya, disesuaikan dengan kemajuan zaman maupun kondisi kelurga mempelai.

Bersanding
Upacara ini dilaksanakan setelah resmi akad nikah. Prosesi bersanding merupakan acara resmi bagi kedua pengantin akan duduk di atas pelaminan yang sudah dipersiapkan. Terlebih dahulu pengantin wanita didudukan di atas pelaminan, dan menunggu kedatangan pengantin pria. Kehadiran pengantin pria diarak dengan upacara penyambutan dan berbalas pantun.
Rangkaian prosesi bersanding yakni acara penyambutan pengantin pria, Hampang Pintu, Hampang Kipas, dan Tepung Tawar. Kehadiran pengantin pria beserta rombongan pengiring dalam jumlah cukup banyak, terdiri dari :
- Barisan Pulut Kuning beserta hulubalang pemegang tombak kuning.
- Wanita (Ibu) pembawa Tepak Sirih.
- Wanita (Ibu) pembawa beras kuning (Penabur).
- Pengantin pria berpakaian lengkap
- Dua orang pendamping mempelai pria, mengenakan pakaian adat Teluk Belanga.
- Pemegang payung kuning.
- Orang tua mempelai pria.
- Saudara-saudara kandung pengantin pria.
- Kerabat atau sanak famili

Makan Nasi Hadap-Hadapan

Upacara ini dilakukan di depan pelaminan. Hidangan yang disajikan untuk upacara ini dibuat dalam kemasan seindah mungkin. Yang boleh menyantap hidangan ini selain kedua mempelai adalah keluarga terdekat dan orang-orang yang dihormati.
Dalam upacara ini juga biasanya lazim diadakan upacara pembasuhan tangan pengantin laki-laki oleh pengantin wanita sebagai ungkapan pengabdian seorang istri terhadap suaminya.
Menyembah Mertua

Upacara ini dilakukan apabila di siang harinya kedua mempelai telah disandingkan di pelaminan, maka pada malam harinya dilanjutkan dengan acara menyembah pada mertua.
Pengantin laki-laki dan wanita dengan diiringi oleh rombongan kerabat pengantin wanita berkunjung ke rumah orangtua pengantin laki-laki denagn membawa beraneka hidangan tertentu.

BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Jadi, kearifan budaya lokal dari suatu budaya yang saya ambil yaitu Kepulauan Riau memiliki banyak budaya khas turun temurun yang sampai saat ini yaitu dizaman modern ini, masih menjungjug tinggi kebudayaan yang ditinggalkan dari nenek moyang ,kerajaan, pemangku adat ataupun dari silsilah keluarga. Ke khas-an dari adat istiadat di Kepulauan Riau sangat membuat citra budaya Indonesia semakin beragam dengan tata cara khusunya perkawinan yang masih sangat merekat di masyarakat melayu Kepulauan Riau. Maka dari itu marilah bersama-sama kita tetap melestarikan adat istiadat kearifan budaya local di daerah kita agar tidak termakan zaman dan dapat diturunkan kepada orang-orang sesudah kita.


DAFTAR PUSTAKA

*Syafaruddin, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Ilmu Pengetahuan pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang


Rabu, 13 Maret 2013

Kebudayaan Kepulauan Riau

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Riau, baik Riau daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai latar
belakang sejarah yang cukup panjang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah provinsi itu. Riau Kepulauan pernah berjaya dengan Kerajaan Riau
Suku Melayu merupakan etnis yang termasuk ke dalam rumpun ras
Austronesia.Suku Melayu dalam pengertian ini, berbeda dengan konsep
Bangsa Melayu yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur
Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, Mindanao, Myanmar Selatan, serta pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah Suku Melayu sekitar 3,4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami propinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka
Belitung,dan Kalimantan Barat
BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 PENGENALAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU, TANJUNGPINANG

Tanjungpinang merupakan pusat kebudayaan Melayu, hingga saat ini budaya melayu masih kental dalam kehidupan sehari-hari.Adanya Gurindam 12 yang ditulis oleh Raja Ali Haji mengangkat citra negeri ini bahkan tersohor keseluruh negeri. Begitu juga dengan julukan kota gurindam negeri pantun yang hingga saat ini masyarakatnya tidak pernah lupa akan sejarah dan budaya Melayu.
Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan Provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga.
Budaya melayu merupakan induk dari lahirnya kota Tanjungpinang. Dengan keramahtamahan masyarakatnya, Tanjungpinang tidak menutup budaya lain yang ikut membangun kota ini. Dari etnis tionghoa, jawa, medan, padang, ambon dan lain sebagainya membuat kota tanjungpinang menjadi kaya akan keanekaragaman budaya yang dimilikinya. Keseimbangan dalam berbudaya terus menjadi keutamaan dalam membangun ketentraman dan keamanan masyarakat.
Kepulauan Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia.
Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja
Utara   : Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat di
Timur   : Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di
Selatan  : Negara Singapura, Malaysia dan provinsi Riau di sebelah barat.
Secara keseluruhan wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 4 kabupaten dan 2 kota, 47 kecamatan serta 274 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar dan kecil yang 30% belum bernama dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 252.601 km², sekitar 95% merupakan lautan dan hanya sekitar 5% daratan.
Pulau Penyengat merupakan salah satu kawasan wisata di Kota Tanjungpinang. Pulau seluas 3,5 km² ini berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan dapat ditempuh 15 menit dengan transportasi laut. Pada pulau ini terdapat banyak peninggalan lama dengan wujud bangunan dan makam yang telah dijadikan situs cagar budaya.Selain itu juga dijumpai kelenteng atau vihara di kawasan Kampung Bugis yang sekaligus menjadi kawasan wisata religi.

2.2 SENI TARI
Daerah Riau atau secara administratif disebut Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dari mulai sastra, musik, dan tari. Salah satu dari kekayaan Kepri ialah Tari Melemangdan Tari Tandak
-          Tari Melemang
Menurut sejarah, tari Melemang merupakan tarian tradisional yang berasal dari Tanjungpisau, Kecamatan Bintan.Tari melemang pertama kali dimainkan sekitar abad ke-12.Ketika itu, tari Melemang hanya dimainkan diistana Kerajaan Melayu Bentan yang pusatnya berada dibukit batu, Bintan. Tarian ini hanya dipersembahkan bagi Raja ketika sang Raja sedang beristirahat, karena merupakan istana yang ditarikan oleh para dayang kerajaan. Namun setelah kerajaan Bentan mengalami keruntuhan tari Melemang berubah menjadi tarian hiburan rakyat.
Tari melemang biasanya dimainkan oleh 14 penari, diantaranya seorang pemain berperan sebagai Raja, seorang berperan sebagai permaisuri, seorang berperan sebagai puteri, empat orang sebagai pemusik, seorang sebagai penyanyi serta enam orang sebagai penari, mereka menggunakan kostum bergaya melayu sesuai dengan perannya.

-          Tari Tandak
Tarian ini adalah tarian dan juga nyanyian.Bentuk tariannya berupa pantun yang saling bertimbal-balik antara kelompok pria dan wanita. Lagu atau pantun pada tarian ini berisi tentang hal-hal yang ada di bumi atau mengenai kehidupan sehari-hari manusia. Tari tandak adalah tarian pergaulan yang sangat digemari atau disukai di daerah Riau.Tari ini merupakan gabungan antara seni tari dan sastra, biasanya dipertunjukan pada malam hari.Tarian ini diawali dengan semua peserta tari tandak membentuk sebuah lingkaran dan saling berpegangan pundak setiap peserta.Lantas para peserta berjalan sambil mengangkat kaki dan menghentakannya ke tanah.Pada tari tandak biasanya dipimpin oleh seorang yang disebut kepala ngejang.Kepala ngejang bertugas sebagai pemberi irama pada gerakan tari tandak, dan berdiri di tengah-tangah peserta dengan memainkan alat giring-giring yang berbahan besi atau perak bercampur perunggu.

Tarian ini bertujuan agar pemuda dan pemudi mempunyai kesempatan untuk bertemu.Pertemuan itu kadang-kadang berakhir pada jatuh cinta.Tari Tandak menjadi media silaturahmi tempat bertemunya antara pemuda dan pemudi antar kampung.Banyak pasangan suami istri yang bermula dari pertemuan acara tari Tandak ini namun ada pula yang kisah cintanya tidak direstui pihak keluarga.

Tarian ini melambangkan ikatan ikatan yang terjalin antara teman-teman yang berlainan kampung.Tarian ini juga menciptakan rasa aman antar kampung.Dalam taria ini, semua peserta bebas memilih pasangan.Karena tarian ini merupaka hiburan sekaligus silaturahmi, acara ini banyak dihadiri oleh warga, dari anak kecil hingga orang dewasa. Secara rutin acara tari tandak ini dilaksanakan setiap bulan  Juli-Oktober setiap tahunnya, di mana pada bulan-bulan tersebut para petani usai melaksanakan panen.


2.3 RUMAH ADAT
Kepulauan Riau memang sangat kaya dengan keragaman seni dan budayanya, seperti halnya keragam bentuk dari rumah adat yang terdapat di kabupaten dan kota di Provinsi Kepri yaitu selaso jatoh kembar. Keragaman tersebut terjadi karena secara geografi provinsi ini terpisahkan laut antara satu pulau dengan lainnya.Mungkin jaman dahulu faktor tersebut menjadi akibat dari sulitnya komunikasi sehingga saling mengisolasi diri.Maka antara satu daerah dan lainya walau agak mirip tapi bentuk budaya dan rumahnya sedikit berbeda.

Namun dari keragaman bentuk rumah tradisional yang terdapat di Kepri, ada kesamaan jenis dan gaya arsitektur. Dari jenisnya, rumah tradisional ini pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri diatas tiang dengan bentuk bangunan persegi panjang. Dari beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama, dan memiliki ukiran melayu seperti selembayung, lebah bergayut, pucuk rebung dll.
Keumuman berikutnya terletak pada arah rumah tradisional Kepri yang dibangun menghadap ke sungai. Ini terjadi karena masyarakat tardisional Kepri menggunakan sungai sebagai sarana transportasi

Jika dideskripsikan, denah rumah adat ini hanya memiliki Selasar di bagian depan. Tengah rumah pada bagian tengah dengan bersekat papan antara selasar dan telo.Kemudian bentuk rumah mengecil pada bagian telo yang berguna sebagai tempat makan, dll.Dan pada bagian belakang terdapat dapur.
Balai Salaso Jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah, karena itu dikatakan Salaso Jatuh.Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran.Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebutSalembayung yang mengandung makna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Selasar dalam bahasa melayu disebut dengan Selaso.Selaso jatuh kembar sendiri bermakna rumah yang memiliki dua selasar (selaso, salaso) yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah.
Rumah Selaso Jatuh Kembar dihiasi corak dasar Melayu umumnya bersumber dari alam, yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa.Di antara corak-corak tersebut, yang terbanyak dipakai adalah yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Padahal sejak jaman dahulu gaya arsitektur bangunan dan seni ukir sangat kuat dipengaruhi oleh corak Hindu-Budha. Peralihan gaya pada corak ini terjadi karena orang Melayu pada umumnya beragama Islam. Sehingga corak hewan (fauna) dikhawatirkan menjurus pada hal-hal yang berbau “keberhalaan.
Ada pula corak yang bersumber dari bentuk-bentuk tertentu yakni wajik (Belah ketupat), lingkaran, kubus, segi, dan lain-lain.Di samping itu, ada juga corak kaligrafi yang diambil dari kitab Alquran.Pengembangan corak-corak dasar itu, di satu sisi memperkaya bentuk hiasan. Di sisi lain, pengembangan itu juga memperkaya nilai falsafah yang terkandung di dalamnya.

2.4  SENJATA KHAS KEPULAUAN RIAU

-          Pedang Jenawi(tumbuk lada)

Sejenis Senjata tradisional dari daerah Kepulauan Riau.pedang jenawi ini digunakan para panglima perang dalam pertempuran. Panjang pedang ini mencapai satu meter.senjata lainnya adalah kelewang, digunakan prajurit tempo dulu
Pada pangkal sarung Tumbuk Lada terdapat bonjolan bundar yang selalunya dihias dengan ukiran yang dipahat.Sarung senjata ini selalunya dilapis dengan kepingan perak yang diukir dengan pola-pola rumit.
Panjang bilah tumbuk lada sekitar 27 cm hingga 29 cm. Lebar bilahnya sekitar 3.5 cm hingga 4 cm. Dari tengah bilah sampai ke pangkalnya terdapat alur yang dalam.
Selain keris, Tumbuk Lada pada zaman dulu juga menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat di Kepulauan Riau, Deli, Siak dan Semenanjung Tanah Melayu.
Tumbuk Lada digunakan secara menikam, mengiris dan menusuk dalam pertempuran jarak dekat.Ia boleh dipegang dengan dua jenis genggaman yaitu dengan mata keatas ataupun mata ke bawah


2.5 BAJU ADAT KHAS KEPRI


pria
pakaian pria yang digunakan pria disebut baju teluk belanga.baju ini dipadankan dengan celana panjang yang disuji.sehelai kain diikatkan ditengah badan hamper menyentuh lutut.bagian kepala ditutup dengan destar atau tanjak.pada hari pernikahan pengantin pria memakai jubah yang dilengkapi celana panjang,kain selempang dan ikat pinggang.pengantin ini memakai tutup kepala yg disebut ketu
wanita
wanita memakai atasan berupa baju kurung dan kain selempang yang telah disuji.bawahannya adalah kain songket dengan motif yang cantik.pakaian ini dilengkapi dengan perhiasan berupa anting,gelang dan cincin.pakaian pengantin dilengkapi baju telepuk dan kain cual.Sanggul kepala dihiasi tusuk cempaka emas dan penutup dahi atau pasiani.perhiasan lain yang biasa digunakan adalah pending gelang dan cicncin terbuat dari emas
siput laut merupakan makanan khas masyarakat di Kepulauan Riau. Warga setempat menyebutnya sebagai gonggong.Hewan laut ini banyak terdapat di Desa Lobam, Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

2.5  MAKANAN KHAS PROVINSI KEPRI

Untuk mencapai daerah Tanjung Uban membutuhkan waktu perjalanan selama 30 menit dengan menggunakan speed boat dari Batam, Ibukota Kepulauan Riau. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui darat sejauh 30 kilometer ke arah selatan Pulau Bintan.
Di pinggir Pantai Lobam seluas 10 hektar inilah gonggong dengan mudah dapat ditemukan ketika air laut sedang surut.Sedikitnya setiap hari terdapat 50 warga setempat yang mencari gonggong di pinggir pantai.
Salah seorang diantaranya nenek berusia 60 tahun bernama Karmelia.Dia mulai mencari gonggong sejak fajar menyingsing, dengan ditemani dua orang cucunya yang telah putus sekolah.
Tak hanya gonggong yang dia dapat bersama cucunya, tetapi juga biota laut lainnya, seperti tripang, kepiting dan udang.
Namun belakangan, gonggong yang berukuran besar semakin sulit didapat.Kebanyakan yang ditemui gonggong berukuran kecil.Belum lagi, pencari gonggong kini telah semakin banyak.
Sehingga Karmelia yang telah menekuni pekerjaan ini selama kurang lebih 20 tahun setiap hari hanya dapat memperoleh satu hingga dua kilogram gonggong.Hasil tangkapannya dijual ke pengepul seharga 7 ribu rupiah per kg.
Di pengepul gong gong yang masih segar disimpan selama dua hari di gudang penyimpanan. Hal ini dilakukan agar kotoran dan pasir lepas dari cangkang gonggong.
Gonggong sebenarnya dapat dijadikan alternatif warga Kepulauan Riau mencari nafkah.Namun sayangnya, biota laut jenis Molusca ini belum dapat dibudidayakan. Hewan ini baru terbatas berkembang biak secara alami, karena setiap hari diambil, gonggong dapat punah.Apalagi biota laut ini memerlukan waktu lama, sekitar 5 tahun untuk mengeraskan cangkangnya.
Balai Budi Daya Laut Departemen Kelautan dan Perikanan Kota Batam, telah mengupayakan pelestarian gonggong dengan melakukan usaha pelestarian di habitat aslinya di pinggir pantai.Benih gonggong dilepas di areal seluas dua hektar untuk mengetahui pola pergerakan dan reproduksinya.
Gonggong boleh saja semakin sulit didapat.Namun animo masyarakat makan gonggong tetap

BAB III
KESIMPULAN
Jadi, keberagaman kebudayaan sangat banyak diIndonesia khususnya di daerah Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sangat banyak terdapat keunikan kebudayaan di provinsi ini, dari makanan khas daerahnya, senjata khasnya, baju pengantinnya, tarian khasnya dan banyak lagi, juga sejarah kebudayaan daerah Provinsi kepulauan Riau ini sangat layak untuk dilirik dan berpotensi menjadi kebanggan kebudayaan Indonesia


DAFTAR PUSTAKA

Sabtu, 02 Februari 2013

keluargakecilku :)

Doa rindu si anak rantau :')

           Putri adalah anak yang beranjak dewasa ,bukan anak yang beranjak remaja lagi ,aku dilahirkan dikeluarga sederhana dengan sejuta kebahagian ,keharmonisan ,keakraban dan segala sesuatu yang luar biasa.
           Aku punya papa yang luar biasa baik ,bertanggungjawab ,ulet ,pantang menyerah dan yang paling penting papa sangat sayang dengan keluarga kecilnya ini dan karena itulah putri pengen nyari suami seperti sosok papa :')
           Aku punya mama yang tegas ,baik sama semua orang dan Alhamdulillah sosok yang disegani di antara relasi kerja dan teman-temannya. Mama itu orangnya gak bisa diem harus ada aktivitas terus bawel dan mama itu pelengkapnya aku ,mama bisa jadi sosok siapapun untuk bisa jadi yang terbaik buat aku :')
           Dan aku punya adik cewek namanya Dinda :) beda jarak kita ya sekitar 6 tahun lah tapi sekarang badannya gedean dia hahaha. Kita itu kalo udah ketemu berantem muluk tapi kalo udah jauh yakin deh pasti ada aja sakit haha (emang gitu sih biasanya adikberadik :D)
            Dan sekarang aku kuliah disalah satu perguruan swasta terbaik di Indonesia (katanya..) dan aku sekarang jadi anak rantauan ,semua harus sendiri ,yang awalnya manjaa banget ya sekarang begitulah ,semoga semua yang niatnya baik hasilnya juga baik aminnnn ya Rabb.
            Doa aku untuk keluarga kecil aku ini tetep sehat jasmani rohani ,bahagia lahir bathin :)
Ma ,Pa insyaAllah liat kakak sukses yaa :) .Tetep jadi orangtua yang membanggakan ,jadi orangtua yang senatiasa jadi motivator tanpa henti ,
            Doa kalian ,nasehat kalian ,perhatian kalian ,segala sesuatu yang kalian lakukan untukku takkan pernah terganti oleh apapun dan sampai kapanpun .Bahagia kalian itu adalah bahagiaku :')
            Love You Ma..Pa..Dinda..*kisses*

Ini keluarga kecilnya putri :)



dan ini aku sama momhero :)